Rabu, 02 April 2025

Catatan Ramadan 1446H

Setiap Sya'ban datang, satu hal yang selalu aku pikirkan, "Apakah umurku akan sampai di Ramadan tahun ini?" dan alhamdulillah, tahun ini Allah izinkanku untuk kembali melewati Ramadan 1446H (01 Maret 2025). 

Ramadan tahun ini terasa seperti roller coaster. Rasa senang yang turut diiringi perasaan sedih melihat kondisi Indonesia, dunia dan Gaza. Inilah pelajaran yang aku dapatkan dari Ramadan tahun ini.

Tentang itikaf tahun ini..

Tahun ini adalah kali kedua aku merasakan itikaf. Walaupun hanya 2 hari, tapi sangat banyak mengukir kenangan. Melewati itikaf dengan sahabat adalah saat yang tidak akan pernah aku lupakan. Bertemu dan menghabiskan waktu bersama saat libur saja sudah senang, apalagi saat menghabiskan waktu untuk bersama-sama mencari ridho-Nya. Semoga kita dipertemukan lagi di syurga-Nya ya..aamiin

Selain itu, itikaf kali ini memberiku harapan jika generasi mendatang insha allah akan lebih hebat daripada generasiku. Melihat banyaknya anak-anak yang menghabiskan waktu itikaf bersama keluarganya, jujur membuatku iri karena baru merasakan itikaf di umur yang sudah dewasa ini. Tapi disisilain, ada keyakinan dalam diriku bahwa inilah generasi pejuang. Generasi yang sudah diingatkan oleh penciptanya sedari kecil. Menghabiskan waktu malamnya untuk mengenal pencipta-Nya. Sungguh, semoga diriku kelak dapat membangun keluarga seperti itu. Keluarga yang menjadikan Allah sebagai poros dan tujuan utamanya. aamiin 

Tentang waktu..

Ngerasa nggak sih, kalau Ramadan tahun ini itu berasa cepet banget. Tahu-tahu udah minggu kedua, tahu-tahu udah 10 hari terakhir Ramadan aja. Waktu itu terasa semakin cepat ya.. Apalagi saat kita mendewasa dan mulai disibukkan dengan hal lainnya.

Untuk diri ini yang suka lalai dan berfikir "tenang masih ada waktu" ternyata aku tidak 'se ada waktu' itu. Umurku saja sudah hampir setengah umur Rasulullah, dan itu pun berkurang setiap menit, bahkan detiknya. Rasanya udah bukan saatnya lagi untuk 'nyantai'. Karena aku bisa 'pulang' kapan saja bukan? Saatnya bergegas untuk mencari bekal sebanyak mungkin untuk 'pulang'. Kurangi overthingking tentang harus mulai darimana nya, karena kuncinya mulai dulu aja bukan? selama itu hal yang Allah perintahkan dan Allah sukai.

Bicara tentang waktu ini pun, aku semakin menyadari jika usia orangtuaku pun semakin berkurang setiap menitnya. Karenanya aku sangat ingin membahagiakan mereka, mewujudkan setiap keinginan baik mereka. Berusaha keras, dan berdoa semaksimal yang aku bisa. Termasuk menemukan seseorang yang dapat menjadi nahkoda kapal yang akan berlayar menuju samudera nan luas kedepannya. 

Banyak sekali ya ternyata yang harus dipersiapkan. Semoga aku bisa lebih memaksimalkan waktu yang aku punya aamiin

Tentang pertemuan dan perpisahan..

Orang bilang disetiap pertemuan pasti ada perpisahan bukan? Sama seperti pertemuan dengan Ramadan melalui ajakan sholat tarawih pertama begitu pun perpisahannya dengan gema takbir yang berkumandang dimana-mana. 

Saat gema takbir berkumandang, rasanya itu seperti "Seriusan ini Ramadannya udahan?" dan gema takbir yang nyaring penuh semangat oleh anak-anak pun malah membuat pipi ini basah. Emang bener nya, kita akan merasa sesuatu itu semakin berharga ketika kita kehilangannya. Sama seperti Ramadan yang udah selesai, baru deh ngerasa "Ya Allah, ibadahnya ngerasa masih kurang, Ya Allah ngerasa akhir ramadannya masih belum maksimal" dan aku takut. Takut perpisahan ini mengikis perlahan kebiasaan baik yang sudah dilakukan disaat Ramadan. Takut jika Ramadan ini tidak memberikan bekas sedikit pun dihati dan kehidupanku setelahnya. Semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah untuk terus istiqomah atas hal baik yang kita lakukan di Ramadan kali ini ya, aamiin.

Tentang Gaza dan Indonesia

Yes, yang terakhir ini mungkin agak 'politik' sekali ya gaes, tapi inilah yang aku pikirkan. Melihat berita pembantaian saudara kita di Gaza saat ramadan itu benar-benar pengecut! Biad**! Sebegitu takutnya mereka dengan iman penduduk Gaza hingga berusaha melemahkan mereka di bulan dimana Al Qur'an diturunkan ini. 

Seperti yang kita tahu, atau mungkin kita pernah dengar, Baitul Maqdis adalah jantungnya dunia, siapa pun yang menguasainya maka ia akan menguasai dunia. Dan saat ini jantung itu benar-benar sedang sakit, sedang tercabik dan penuh luka oleh mereka yang mengerti akan hal ini dan berusaha menguasainya untuk kepentingan duniawi. Jika mereka bisa setidak menyerah itu, seterencana itu untuk menaklukan jantung dunia demi kepentingan duniawi mereka, kenapa kita sebagai umat muslim tidak bisa sebangkit itu?

Gaza dan Indonesia, jika jantung dunia itu tidak sesakit ini, aku yakin keberkahaannya pun akan meluas sampai ke Indonesia, dan Indonesia pun bisa turut sembuh dari penyakit-penyakit yang sudah mengakar ini. Atau mungkin ini adalah cara Allah untuk menempa para pejuang peradaban. Rakyat Indonesia yang mulai berisik dan sadar jika Indonesia tidak baik-baik saja, dan menyuarakan kebenaran tanpa rasa takut dari berbagai kalangan. Sungguh! bukankah mengatakan kebenaran kepada pemimpin yang dzolim merupakan sebuah jihad yang besar?

Bagiku saat ini baik mengenai Indonesia maupun Baitul Maqdis, keduanya memiliki permasalahn yang sama, yakni perang pemikiran. Jangan berhenti menyuarakan kebenaran baik itu tentang Gaza maupun Indonesia. Liberation of mind. Buat rakyat Indonesia sadar akan apa yang sebenarnya terjadi dan berfikir lebih kritis lagi.

aaargh, saat mengetik ini tuh jujur, dalam diri tuh tau jika masalahnya tidak sesederhana itu. Tapi untuk diriku dan kita semua, lakukan hal kecil apa pun yang bisa kita lakukan.

Tak perlu panggung besar, dimulai dari lingkup kecil pun cukup. Setiap insan memiliki perannya bukan? So, inilah saat yang tepat untuk memaksimalkan peran kita. Ganbatte!

Terakhir..

Ramadan ini aku bersyukur Allah masih izinkan aku bertemu orang yang aku sayangi, menghabiskan waktu bersama mereka, bercerita dengan mereka, belajar kehidupan dari apa yang aku lihat dan siapa yang aku temui setiap harinya. Banyak kajian yang mind-glowing sekali di Ramadan kali ini, mulai dari Escape, Reconnect with Al Qur'an: YukNgaji, My Dear Heart:Dr Haifaa Younis the Other Side: Dr Oemar Suleiman is She/He the One:Ust Oemar Mita dsb.

Selain itu Ramadan tahun ini bisa ikut kelas belajar bahasa Arab. Ya Allah aku jatuh cinta sama bahasa Arab ^^, rasanya ketika baca kalam-Mu terus nemu kosakata yang pernah aku pelajari, rasanya tau-tau senyum sendiri. Semoga bisa istiqomah menemukan rasa senang disetiap prosesnya ya Allah, aamiin

Ramadan kali ini juga Allah tunjukkah perlahan demi perlahan jalan menuju mimpi besarku (berkat doa mamah tentunya), tantangan yang Allah berikan setiap harinya di Ramadan ini untuk menguatkan mental dan fisikku, serta rasa deg degan, takut, sedih, senang semuanya aku syukuri. Ya Allah, semoga aku dan kami semua bisa kembali bertemu dengan Ramadan tahun depan ya Allah, aamiin

Ya Allah terima kasih,
Sungguh, aku bukanlah apa-apa tanpa-Mu ^^



Sampai bertemu di Catatan Ramadan Selanjutnya Insha Allah.