Selasa, 15 Agustus 2023

Pengalaman Kegagalan Mengikuti "Sejuta Cita Future Leaders Vol: V, JAPAN" 2023

 Assalamu'alaikum gaees...

Malam ini pengen banget cerita tentang salah satu milestone kegagalan pertama di umur yang baru bertambah ini. Sekaligus semoga ini bisa jadi pelajaran buat siapa pun dari kalian yang nantinya mungkin mau ikut program Sejuta Cita ini.



Firstly, aku pribadi baru kenal akun Sejuta Cita ini di bulan Juni 2023 ini dari salah satu teman yang share tentang program Sejuta Cita yaitu "Sejuta Cita Future Leaders Vol:V". Pas liat programnya fully funded untuk ke Jepang, tanpa pikir panjang langsung aja gaskeeun. Karena fully funded pastinya ada seleksi dong. Seleksinya terdiri dari 3 jenis yang dapat kita pilih salah satu yakni, Esai, Pengetahuan Umum dan Skolastik (selengkapnya bisa cek ini). Berkaca dari program lain yang pernah diikutin dulu, aku dari awal tidak berniat mengikuti pengetahuan umum maupun skolastik, selalu gagal gaees.. hhe Jadi, langsung deh aku daftar untuk seleksi via Esai dan kalian bebas mau submit berapa esai loh.

Anyway, disini aku pilih yang registrasinya berbayar ya, jadi total biaya registrasi tergantung berapa banyak esai yang mau di submit. Singkat cerita, aku pun memutuskan akan membuat 2 esai. Alur yang harus diikuti untuk menjadi yang terpilih ini pun ada 4:
  • Seleksi Berkas
  • Seleksi Esai Tahap 1
  • Seleksi Esai Tahap 2
  • Wawancara dan
  • Pengumuman Pemenang
Aku sama sekali belum ada pengalaman buat esai. Yes, this is my first time dan alhamdulillah aku lolos Seleksi Esai Tahap 1 namun gagal di Seleksi Esai Tahap 2. Sedih? Pasti! Nggak mungkin nggak, apalagi untuk orang belajar bahasa Jepang, mengagumi Jepang, untuk bisa pergi dan belajar kesana lagi bisa dibilang adalah salah satu impian. Apalagi SFL ini tidak hanya mengunjungi Tokyo, tetapi juga Osaka, salah satu kota yang paling aku impikan untuk datang kesana.

Setelah aku merenung, muhasabah, dan mengingat-ingat lagi, mungkin bisa dibilang hal inilah yang membuat aku gagal di Seleksi Esai Tahap 2 ini :

1. Tidak totalitas dan merasa cepat puas

Aku mengakui aku adalah tipe orang yang 'Deadliner' yang makin kesini makin ngerasa kalau ini tidak baik. Esai tahap satu pun aku tuntaskan benar-benar di waktu yang mepet. 23.45 dari batas maksimal pengumpulan 23.59, mepet banget bukaan. Alhasil, esai yang harusnya aku submit 2 dengan judul berbeda hanya aku submit dengan judul yang sama. Nah, begitu pula untuk seleksi esai tahap 2 ini aku kumpulkan di jam 21.00 dari batas maksimal pengumpulan 23.59. Tidak terlalu mepet memang, tapi disitulah titik krusialnya.

Aku terlalu cepat merasa puas! Bagi orang yang pertama kali membuat esai bisa dibilang aku terlalu jumawa. Langsung merasa puas dengan tulisan yang aku buat dan tidak meminta pendapat mereka yang sudah ahli dalam penulisan. Ini pun buah dari ngerjain yang terlalu mepet. Ngerjain mepet waktu ini bener-bener bikin kurang riset, jadi terburu-buru, dan tidak push my limit

Dibanding pengumpulan Esai Tahap 1 yang bagaimana pun aku tidak mau menyerah dan alhamdulillah bisa kelar tidak lewat tenggat, di Esai Tahap 2 ini aku sendiri merasa kayak "yang penting ngumpulin deh", padahal dari sisa waktu yang ada, kalau aku ingin lebih berusaha dan push my limit, mungkin aku bisa menyelesaikan satu esai lagi dengan judul berbeda bukan?

2. Orientasi yang berubah di tengah jalan

Honestly, hal yang bikin aku nggak mau nyerah waktu buat esai tahap 1 adalah ketika aku riset tentang harapan Indonesia untuk pendidikan di tahun 2045 membuatku tanpa sadar jadi semangat. Bahkan dalam hati aku selalu mengucapkan, "Tawakal itu dari awal, yuk jangan nyerah". Yes, benar-benar ngerasa "ya Allah, terserah deh gimana nanti, yang jelas cuma pengen ngungkapin apa yang ada di hati lewat tulisan ini", Just it. dan Alhamdulillah lolos.

But, ketika di seleksi tahap ke-2 ini ngerasa banget orientasi 'Tawakal' itu hilang perlahan. Tanpa sadar cuma kayak "pengen ke Jepang". Nilai-nilai semangat pengen ke Jepang karena untuk pendidikan Indonesia itu benar-benar terkikis. Dan aku jadi sadar ternyata hati aku sendiri sebenarnya udah ngasih sinyal itu ketika mulai nggak tenang, deg-degan nungguin pengumuman, bolak-balik liat website dan instagram untuk tau kapan pengumumannya, kayak "Apa siih yang ditunggu? Untuk apa siih?"


Okay, mungkin menurut kalian itu terlalu strict. Tapi bagi aku pribadi yang mungkin terlalu idealis ini, mengikuti hal kayak gini pun harus ada tujuannya. Tujuan yang nggak cuma untuk hiburan, tapi harus bisa memberi manfaat untuk diriku dan sekitar. Aku pun sadar kalau udah salah niat apalagi ketika ngebayangin "Wah, kalau menang bisa ke Osaka yaa, bisa ke Japan Dakwah Center yaa, bisa ketemu temen yang disana yaa" semacam ini, kayak cuma kepikiran enaknya aja gitu. "Mana buat pendidikannya?" kurang lebih gitu deh.

"Setiap kegagalan pasti ada ibrah yang bisa diambil"

Dan itu pun yang aku temukan dari kegagalanku. Mungkin yang Allah inginkan bukan membuat aku pergi ke Jepang, tapi membuat aku terbuka akan realita pendidikan Indonesia saat ini. Hal yang aku temukan ketika aku melakukan riset, membaca artikel, menonton youtube seputar pendidikan dan ketika aku bertanya kepada teman dan kakak-kakak relawan untuk bahan esai ini.

Mungkin Allah juga ingin aku tersadar, untuk fokus dan total untuk apa yang aku impikan, dan jangan jadi 'Deadliner' lagi serta berusaha lebih manage waktu. Serta ini jadi salah satu trial aku untuk menetapkan apa yang aku pelajari, 'Tawakal itu dari awal'. Ternyata susah ya gaees, hehe. Ketika di tengah jalan keinginan terlalu lebih tinggi, tawakal itu jadi tanpa sadar suka kekikis. Tapi, semoga di lain kesempatan bisa menerapkan ini dari awal hingga akhir hal itu tercapai. aamiin

Last but not least,
You Did Well Ayoe! (puk puk)

Setidaknya kamu tidak menyerah sebelum mencoba, that's a good thing right? Kalau nggak ada kegagalan ini pun kamu kayaknya nggak akan nulis di blog ini lagi, hhe
Keep trying! Ganbare!

Semoga tulisan ini juga bermanfaat untuk kalian yang baca ini (makasih loh udah baca celotehan ini sampai akhir hhe). 

SFL ini akan ada banyak programnya, jadi bisa kepoin langsung ya ke Instagramnya ya @sejutacita.id

Arigatou gaees...

Terima kasih untuk pengalaman berharga ini ya Allah.

2023年8月15日


1 komentar:

  1. Aku izin mengangkat tangan untuk proof-read essay2mu berikutnya Yu. Tips: ini salah satu soft skill yang tidak diprioritaskan di pendidikan di Indonesia: mengangkat tangan tanpa ditunjuk. Sending much love from afar. DW.

    BalasHapus